Menjual Buku Anak dan Balita Berkualitas

Adab dalam Ilmu

Warisan yang tidak akan lekang oleh waktu adalah ilmu. Dan sebaik-baiknya warisan adalah ilmu yang disertai adab.

Korupsi yang terjadi di negeri kita, anda tahu, sudah lebih dari menggurita. Begitu banyak tangan-tangan yang terlibat dan kemudian terbelit atau justru membelit. Begitu banyak orang berkata, sebaiknya begini, sebaiknya begitu. Tapi pada akhirnya menyerah pada fakta "sistem korupsi".

Terlalu naif kalau kita berusaha menghentikan korupsi dengan cepat dan tuntas. Butuh waktu yang tidak sebentar dan kerjasama seluruh pihak untuk meng-cut gurita korupsi. Dan yang tindakan yang paling rasional adalah memulai pembenahan dalam keluarga.

Seorang anak, anda tahu, jika dikelilingi dengan orang-orang yang melegalkan perkataan bohong, maka bisa dipastikan, kelak, ketika dewasa, korupsi baginya adalah tindakan yang sah-sah saja selama tidak ada yang mengetahui. Menyembunyikan fakta menjadi hal yang "tidak salah" dimatanya.

Sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib ketika menafsirkan perintah 'menjaga keluarga', ia berkata, "Ajarilah anak-anak kalian adab dan ilmu."

Lantas apa hubungan adab dengan ilmu sehingga perlu disejajarkan? Seseorang yang berilmu tanpa diikuti dengan adab, alhasil yang ditimbulkan adalah bencana dan kerusakan, bahkan kebinasaan. Alih-alih memberi manfaat bagi orang lain, yang ada justru keresahan dan kerusakan yang menyebar di tengah masyarakat. Seperti yang jamak kita lihat dalam parodi politik negeri ini. Bahwa orang yang melanggar hukum itu ternyata orang yang sangat pandai dan paham dalam perumusan hukum.

Dan semuanya bermula dari keluarga. Keluarga yang menghargai ilmu. Juga keluarga yang menyertakan adab dalam mencari dan mengaplikasikan ilmu. Menyediakan home library merupakan langkah pertama yang cerdas. Tidak sembarang buku pantas untuk dimiliki. Terutama jika anda memiliki buah hati. Jika memungkinkan, pisahkan koleksi orangtua dengan koleksi anak. Tidak hanya buku porno yang berbahaya untuk anak, buku-buku filsafat pun bisa meracuni pikiran anak. Bayangkan seorang anak yang cerdas berusia 8 tahun membaca "zaratustra"nya nietzsche atau "dunia sophie"nya Jostein Gaarder. Entah apa yang ada dalam benaknya. Bisa saja ide-ide yang mengerikan menjadi embrio dan lahir ketika ia dewasa.

Pilihkan buku-buku yang bergizi. Buku, anda tahu, adalah suplemen untuk otak yang tidak ada bandingannya. Membaca membuat otak senantiasa sibuk berolahraga pikir. Bacaan yang baik, tentunya merupakan stimulus yang baik untuk perkembangan otak anak. Memasukkan nilai-nilai adab pada usia balita adalah mungkin melalui buku. Orangtua bisa ber-read aloud. Melalui read aloud, orangtua memasukkan nilai-nilai yang diinginkan untuk diserap anak. Read aloud itu sendiri membawa dampak positif pada anak. Rasa nyaman karena kedekatan dengan orangtua, juga kebutuhannya menjelajah dunia yang terpenuhi (buku adalah jendela dunia).

(Hylan Khazanah, dari berbagai sumber)

Written by Khazanah on Friday March 6, 2015
Permalink -

- Anak Cinta Buku »