Menjual Buku Anak dan Balita Berkualitas

Belajar kapan saja, dimana saja

Apa arti belajar bagi anda?
Menurut KBBI belajar artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sampai disini saya yakin anda setuju dengan KBBI. Tapi mari coba melihat praktek di keluarga kecil anda. Anda membaca sebuah buku parenting. Anak anda mendekati dan bertanya, “sedang apa Bun?” andapun menjawab, “Bunda sedang belajar.”

buku dan apel

Bandingkan dengan situasi ini:
Anda sedang mencoba sebuah resep baru yang sedang kekinian. Anda sibuk di dapur, menyiapkan segalanya dengan berbekal catatan resep yang anda copy paste dari sebuah blog. Anak anda mendekati dan bertanya, “sedang apa Bun?”
Andapun menjawab, “Bunda sedang masak.”

Yang ingin saya tanyakan, samakah situasi di atas dalam konteks belajar? Ya, sebetulnya situasinya sama. Tapi anda yang berasumsi bahwa itu beda. Anda setuju dengan saya? Bisakah anda menemukan persamaan dari kedua situasi di atas?

Belajar bukan hanya membaca, menulis, berhitung dan sejenisnya. Bagi anak-anak (bahkan bagi orang dewasa) menumpahkan air ke lantai adalah belajar. Bermain pasir adalah belajar. Hujan-hujanan dan berbecek-becek ria adalah belajar. Lompat-lompatan dan petak umpet adalah belajar. Bahkan berantem/berkelahi adalah belajar. Whats? Anda terkejut? Ya, itulah faktanya. Setiap aktivitas adalah proses pembelajaran. Tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi anda, saya, kita, selaku orang dewasa.

Kapan dan dimana anak-anak belajar?
Kapan saja dan dimana saja. Tidak hanya di play grup, paud, sekolah, TPQ. Tapi betul-betul dimana saja. Di taman bermain, di mall, di angkot dll.

Apa sih yang mereka pelajari jika berkonsep kapan saja dan dimana saja belajar? Banyak sekali moms. Jika kita orang dewasa, berjumpa dengan kawan lama di suatu mall, kita ngobrol dan berbicara santun, itu adalah hasil dari pembelajaran di masa lalu. Di saat yang sama kita juga sedang belajar untuk meng up grade diri sendiri dengan menggali informasi dari sang kawan. Kita mencoba bermain dengan konsep trial and error. Begitupun anak-anak. Ada kalanya (sering bahkan) ketika mereka berkelahi, sesungguhnya mereka belajar untuk mempertahankan sesuatu. Sesuatu itu bisa hal yang sangat sepele bagi kita (orang dewasa), tapi bagi anak-anak proses berkelahi itu, yang berulang itu adalah sebuah pembelajaran nyata dari mewujudkan kesabaran dan kemampiuan berkomunikasi. Tidak hanya sekedar teori.

Ini yang penting untuk dicatat: fitrah anak-anak adalah pembelajar. Ya, setiap anak fitrahnya adanya belajar. Artinya setiap anak sejatinya mau belajar. Mari renungkan sejenak, tumbuh kembang bayi baru lahir hingga usia setahun. Melesat cepat bukan? Bermulanya dengan tangisannya yang melengking, lhingga berjalan tertatih-tatih. Bahkan para wirausahawan menciptakan buku khusus tumbuh kembang bayi untuk bunda-bunda yang ingin mencatat setiap perkembangan. Karena ingatan kadang kalah cepat dengan banyaknya aktivitas bunda menstimulasi bayinya.

Satu hal lagi, anak adalah peniru ulung (meminjam istilah dalam salah satu artikel parenting). Anda punya kebiasaan garuk-garuk kepala meski tidak gatal? Hati-hati, kelak anak anda tanpa sadar akan mengikuti. Pun jika anda terbiasa membaca buku dimana saja, anak anda juga akan mengikuti. Maka menjadi teladan bagi anak-anak adalah wajib. Jadilah orangtua yang bijak. Mengutamakan meninggalkan warisan berupa kecintaan akan belajar dan mencari ilmu ketimbang harta yang melimpah tanpa ilmu.

Salam cinta buku
Hylan Khazanah
(dari berbagai sumber)

Written by Hylan Khazanah on Wednesday January 27, 2016
Permalink - Tags: blog, membaca

« Langkah Sederhana Memulai Menciptakan Perpustakaan Keluarga - Hijrah ke Bisnis Buku »