Menjual Buku Anak dan Balita Berkualitas

Buku sebagai Indikasi Kemakmuran

Unesco dalam 2 tahun terakhir ini mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 artinya dalam 1000 orang, hanya ada 1 orang yang punya minat baca. Bandingkan itu dengan jumlah buku yang terpajang di tiap-tiap toko buku. Maka bisa dimaklumi jika pemodal berpikir ulang dalam menginvestasikan uangnya dibidang ini.

Kemudian ada yang mengaitkan minat baca buku dengan daya beli para pembacanya. Berbagai alasan dikemukakan yang semuanya berujung pada kesimpulan bahwa, setelah seseorang kenyang perutnya, barulah ia bisa memikirkan hal lainnya termasuk soal mengkonsumsi buku. Deretan prioritas masing-masing orangpun bervariasi. Buku bisa jadi terletak pada deretan bawah list panjang kebutuhan.

Tetapi, benarkah demikian?

Budaya di Indonesia yang menganggap buku adalah urusan kaum priyayi, sekarang bergeser menjadi urusan anak sekolahan. Itu berarti banyak orang Indonesia yang memahami buku hanya sebatas buku pelajaran. Yang lainnya dianggap novel picisan yang tak ada guna dibaca. Membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan menghabiskan uang saja. Sungguh sangat mengenaskan dan memprihatinkan.

Kesalahan terjadi pada pemahaman konsep membaca. Membaca dimaksudkan untuk mengenali huruf, bukan arti. Bahkan ada orangtua yang dengan sengaja memasukkan balitanya pada bimbel calistung. Banyak malah. Barangkali itulah yang membuat peluang usaha bimbel calistung menjamur di seluruh wilayah Indonesia terutama di kota-kota besar. Orangtua membuat anak-anaknya berpikir bahwa membaca adalah sebuah pekerjaan, yang tentunya melelahkan dan berbeban. Pikiran itu melekat hingga dewasa dan menjadi orangtua yang kemudian menanamkan hal yang sama pada keturunannya. Alhasil, timbullah lingkaran setan yang jika tidak segera diputus bisa awet sampai lebih dari 7 turunan.

Akibat dari minat baca yang rendah, sudah jelas, banyak toko buku yang gulung tikar. Terutama toko-toko buku dengan modal terbatas. Sementara buku yang laris selama ini biasanya adalah buku-buku "how to". Buku-buku kiat sukses lulus ujian, kiat menjadi kaya dalam semalam atau sekadar bagaimana membuat atasan memperhatikan anda. Di tangan para calon pembaca buku-buku how to, buku-buku berkualitas seperti ensiklopedi, novel sejarah, otobiografi, filsafat dll mengalami nasib yang memprihatinkan seiring dengan nasib penulisnya.

Maka, jelaslah bahwa banyak/tidaknya peminat baca buku tidak sepenuhnya bergantung pada tingkat perekonomian. Masih ingat Tan Malaka? Dia berjalan kaki setiap pagi dari Kalibata ke Museum Nasional (sekarang Perpustakaan Nasional). Meskipun hidupnya terbilang "kere" dan berstatus buron, Tan Malaka tetap menghabiskan waktunya di perpustakaan. Baginya, kekayaan hidupnya adalah kata-kata. Dan sekarang kita mengenalnya lewat kekayaan hidupnya. Pun begitu bagi anak-anak kita kelak, dengan asumsi mereka memiliki minat baca yang tak sekadar membaca buku how to.

Adalah kisah Soekarno, presiden pertama RI, yang masa mudanya sering dihantui hidup dalam situasi miskin dan lapar. Apakah beliau menyerah pada nasibnya? Tidak, beliau memutuskan untuk mengalihkan dunianya ke dalam dunia buku. Maka masuklah ia pada perpustakaan Theosofi di Surabaya. Di dalam buku, beliau bertemu dengan banya tokoh dunia beserta pemikiran-pemikiran dari seluruh penjuru, Thomas Jefferson, George Washington, Lenin, Karl Marx, Cavour dan lainnya. Dalam kemiskinan Soekarno muda sudah bertemu dengan pemikir-pemikir dunia yang kelak menjadi cikal bakal perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kita perlu membuka kembali berbagai biografi tokoh dunia dengan kemiskinannya. Mempelajari semangat membaca mereka untuk kemudian dipraktekkan dan diwariskan pada anak cucu. Kisah-kisah itu bisa menjadi sebuah referensi agar tidak cepat membuat pernyataan bahwa berliterasi mestilah bermateri. Banyak tokoh intelektual yang memberanikan diri membeli buku meskipun sehari-harinya masih perlu bekerja keras demi sesuap nasi.

Tan Malaka dan Sukarno muda merupakan contoh ideal untuk menyatakan bahwa letak kekayaan dan kemakmuran seseorang ada pada etos membacanya, bukan materinya. Etos membaca membuat seseorang sanggup membeli buku, berhutang demi buku atau berburu buku dari satu kota ke kota lain, bahkan lintas negara dan benua.

(Hylan Khazanah, dari berbagai sumber)

Written by Khazanah on Wednesday March 18, 2015
Permalink -

« Serunya Halo Balita - KISAH PARA SAHABAT, mengenalkan anak pada tokoh yang nyata. »